NEWS UPDATE :  
SMK SWASTA SANTO ALOISIUS

Berita

PERUMPAMAAN TENTANG GAME FREE FIRE/PUBG

Oleh :


Matheus Eduardus Bala Hipir, S. Fil

 

Hal pembelajaran Belajar Dari Rumah (BDR) itu seumpama seseorang yang sedang bermain game perang, seperti Free Fire atau PUBG. Permainan dapat dimainkan apabila pemain game memiliki hp yang terkoneksi dengan jaringan internet. Pemain gamenya berperang di dunia maya. Medan pertempurannya online karena itu harus didukung oleh jaringan internet yang baik jika tidak maka ia tidak dapat bertempur dengan baik. Selain memiliki jaringan internet yang baik, pemain gamenya harus memiliki taktik atau strategi yang jitu dalam berperang agar dapat menang. Seorang pemain game memiliki kualitas yang baik jika ia bisa membunuh semua lawannya saat berperang. Dalam permaianan game ini, pemain game tidak sendirian, ia memiliki tim. Dalam tim yang diperlukan adalah kerjasama dan komunikasi agar dapat saling membantu saat berperang. Selain itu, pemain game harus memahami instruksi dan memiliki tujuan agar dapat berperang dengan benar dan menang. Pada level awal, pemain game diberikan permainan yang mudah, semakin tinggi levelnya maka semakin sulit permainannya; lawannya semakin sulit dan tantangannya semakin banyak. Karena itu pemain game harus tenang, berpikir untuk lebih kreatif, memiliki strategi yang baik agar bisa menang.


gambar ilustrasi : bermain game online


Begitu juga dengan tenaga pendidik di masa pandemi covid 19 ini, seperti seorang pemain game ia harus memiliki hp yang terkoneksi dengan jaringan internet. Proses pembelajarannya terjadi di dunia maya. Pembelajarannya bersifat online karena itu harus didukung oleh jaringan internet yang baik jika tidak maka ia tidak dapat berproses dengan baik. Selain memiliki jaringan internet yang baik, tenaga pendidik harus memiliki taktik atau strategi yang jitu dalam berproses agar dapat mencapai tujuannya. Seorang tenaga pendidik memiliki kualitas yang baik jika ia bisa mengatasi hambatan yang ada saat berproses. Dalam pembelajaran BDR ini, tenaga pendidik tidak sendirian, ia memiliki tim yaitu rekan kerja di sekolah. Dalam tim yang diperlukan adalah kerjasama dan komunikasi agar dapat saling membantu saat berproses. Selain itu, tenaga pendidik harus memahami instruksi dan memiliki tujuan agar dapat berproses dengan benar dan menang. Pada mulanya penggunaan aplikasi pembelajaran memang sulit tetapi ketika kita mau mempelajarinya dan menggunakannya maka hal tersebut akan menjadi mudah. Karena itu, apapun hambatan dan tantangan yang ada dalam medan pembelajaran BDR ini harus dapat diatasi agar tenaga pendidik dapat naik ke level yang lebih tinggi. Sebagai tenaga pendidik kita diajak untuk harus tenang, berpikir untuk lebih kreatif, berinovasi, memiliki strategi yang baik agar bisa menang.


Hampir dua tahun sudah pandemi Covid 19 melanda kehidupan manusia. Segala aspek kehidupan pun tidak luput dari serangan pandemi covid 19 ini termasuk dalam dunia pendidikan. Pedidikan menerapkan sistem belajar dari rumah (BDR) untuk mencegah dan meminimalisir penyebaran virus ini. Sistem belajar seperti ini mengandalkan media komunikasi (handphone), aplikasi-aplikasi pembelajaran online dalam proses pembelajarannya, Proses belajar dari rumah (BDR) dapat berjalan dengan baik jika tenaga pendidik dan peserta didik menguasai penggunaan handphone dan aplikasi-aplikasi pembelajaran online yang digunakan.


Ada beberapa hal menarik yang mengesankan saya ketika saya menjadi tenaga pendidik di masa pandemi Covid 19 ini. Yang pertama, baru kali ini ruang kelas saya menjadi kosong untuk waktu yang lama. Ruang kelas merupakan tempat proses pembelajaran berlangsung di sekolah. Guru dan peserta didik berproses di dalam kelas untuk memahami materi yang disajikan. Proses pembelajaran itu terlaksana dengan baik jika mengandaikan ada guru dan peserta didik di dalam kelas. Pada masa pandemi Covid 19 ini ruang kelas mengalami pergeseran tempat. Pada awalnya ruang kelas itu konkret ada di sekolah namun sekarang berpindah ke dunia maya berupa kelas online baik itu berupa kelas digrup Whatsapp (WA), zoom meeting, maupun kelas maya di google (google classroom). Proses pembelajaran di kelas maya ini dapat dilaksanakan dengan baik apabila didukung dengan sumber daya manusia yang baik dan tentunya terdapat jaringan internet yang baik pula. Proses pembelajaran BDR memantapkan konsep belajar yang melampaui ruang dan waktu.


gambar ilustrasi : tatap muka online


Menurut saya ada hal positif dan negatif dari pergeseran ruang kelas ini. Hal positif yang pertama, kondisi seperti ini mengajarkan saya untuk terbuka mengakui keterbatasan saya dan dengan rendah hati mau mempelajari sesuatu yang baru. Ada sesuatu yang paradoksal pada masa pendemi ini di mana saya memberikan pelajaran sambil mempelajari sesuatu dari proses pembelajaran yang terjadi. Di satu sisi saya berperan sebagai seorang tenaga pendidik dan di sisi lainnya saya berperan sebagai “seorang siswa” yang sedang mempelajari sesuatu. Keterbukaan atas kemampuan diri dan adanya niat untuk mempelajari sesuatu adalah sikap positif yang harus ada pada masa pandemi ini.


Hal positif yang kedua, proses penyampaian materi dan tugas, pengumpulan tugas terjadi secara instan dan lebih kreatif. Pada masa pandemi covid 19 ini proses pembelajaran sangat instan, tinggal ‘klik’ saja dihandphone atau dilaptop maka materi atau tugas itu akan terkirim. Hasil penilaian lebih mudah diakomodir karena dibantu oleh aplikasi-aplikasi pembelajaran. Pertanyaannya, apakah materi itu dipelajari? Apakah tugas itu murni hasil pekerjaan sendiri atau hasil copas (copy dan paste) tugas teman? Apakah penilaian itu merupakan penilaian yang obyetif atau sebatas subyetifitas dari tenaga pendidik? Integritas, tanggung jawab dan kejujuran dituntut dalam ranah ini. Agar materi pembelajaran itu dapat dipelajari maka materi tersebut perlu diringkas, menarik dan disajikan secara kreatif baik itu dalam bentuk video pembelajaran maupun melalui presentasi  yang menarik. Kreatifitas harus ada dalam proses ini. Efek dari pembelajaran yang instan dan kreatif ini adalah hemat waktu dan meminimalisir penggunaan kertas.


Sedangkan hal negatif dari pergeseran ruang kelas ini adalah, yang pertama kehilangan sisi afektif dalam proses pembelajaran. Ketika proses pembelajaran tatap muka, guru bertemu langsung dengan peserta didiknya, peserta didik bertemu langsung dengan teman-temannya. Pertemuan ini dialami secara langsung baik di dalam ruang kelas maupun di lingkungan sekolah. Kebersamaan, penghargaan satu sama lain, pengalaman di sekolah ini terjadi saat tatap muka. Selain mengolah ranah kognitif beberapa hal yang bersifat afektif juga dialami ketika proses pembelajaran tatap muka. Sisi afektif inilah yang memudar pada saat proses pembelajaran BDR ini berlangsung. Ketakutan akan terciptanya generasi digital yang mati rasa, generasi anti sosial pun bergejolak akibat kehidupan yang berfokus pada handphone atau yang penulis sebut hpsentrisme; dimana hp menjadi pusat kehidupan, hp menjadi yang pertama dan utama. Belum lagi dengan adanya penyalahgunaan hp dan media sosial yang berdampak bagi pembentukan sikap dan karater dari peserta didik.


Hal negatif yang kedua, disposisi prioritas. Hal yang menjadi prioritas dalam proses pembelajaran adalah peserta didik mengerti dan memahami materi yang ada serta mampu mengaplikasikan materi tersebut dalam kehidupannya agar dapat survive dan mencapai tujuan hidupnya. Sikap dan karakter yang baik menjadi tujuan yang utama. Namun dalam proses pembelajaran BDR, hal yang lebih diperhatikan adalah pengumpulan tugas, ulangan dan bentuk penilaian lainnya. Kuantitas pengumpulan kewajiban peserta didik mendapat perhatian lebih daripada kualitas pemahaman materi dari peserta didik. Peserta didik mendapat predikat baik apabila mengumpulkan semua tugasnya dan sebaliknya peserta didik mendapat predikat buruk apabila tidak mengumpulkan semua tugasnya. Pengumpulan tugas menjadi sesuatu yang penting, karena menjadi tolok ukur dari penilaian kualitas peserta didik. Pengumpulan tugas menjadi sebuah formalitas demi mendapatkan sebuah penilaian yang baik dengan mengesampingkan kualitas dari peserta didik atas pemahaman materi yang ada. Sikap perilaku yang baik menjadi sesuatu yang langka, pembentukan karakter yang baik pun menjadi sesuatu yang sulit untuk dicapai.


Ini adalah beberapa hal positif dan negatif dari pergeseran ruang kelas yang terjadi saat proses pembelajaran BDR yang sempat ditulis. Masih banyak hal lain tentunya yang ada saat BDR ini berlangsung namun beberapa hal di atas yang menjadi perhatian penulis. Hal mengesankan yang kedua adalah munculnya kesadaran akan pentingnya menjaga kesehatan. Selama wabah pandemi covid 19 ini melanda kehidupan manusia, ada pola kehidupan baru yang terjadi. Banyak orang yang berolah raga, menjaga jarak dengan orang lain, rajin mencuci tangan, memakai masker, mengatur pola makan demi menjaga kesehatan. Kesehatan menjadi perhatian demi terhindar dari virus yang sedang menular. Pola kehidupan yang baru ini mengguggah setiap orang untuk semakin menyadari betapa berharganya kehidupan. Hidup yang sebelumnya dianggap sebagai sesuatu yang biasa saja sekarang menjadi sesuatu yang luar biasa. Yang untuknya setiap orang rela mengorbankan segala sesuatu demi memperoleh kehidupan yang sehat.


Pada akhirnya saya mengajak kita semua untuk menjadi pemain yang baik dan sehat dalam proses pembelajaran BDR di masa pandemi ini. Mari kita bekerjasama dan sama-sama kerja mengatasi segala hambatan dan tantangan yang ada dalam proses pembelajaran BDR ini. Mari kita berinovasi, menciptaan strategi baru dan menerapkan, membiasakan pola hidup sehat sehingga kelak kita mampu menuntaskan misi kita, menang berperang di medan pandemi covid 19 ini dan bersama-sama naik ke level yang baru. Ivan Illich dalam “Deschooling Society” menyebut sepatah kata kunci: “conviviality”- suasana belajar yang akrab, santai, di mana manusia bisa tumbuh, lebih mandiri.