MEMBANGUN KARAKTER PESERTA DIDIK MELALUI PROFIL PELAJAR PANCASILA
Dalam UU No. 20 Tahun 2003, pendidikan adalah usaha
sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran
agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki
kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan,
akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa
dan negara.
Pendidikan adalah hal yang sangat penting bagi semua
orang karena melalui pendidikan seseorang dapat memperoleh ilmu. Di zaman yang
serba canggih dan modern ini, ilmu harus sejalan dengan karakter. Tapi selain
itu, karakter pun sangat diutamakan dalam kehidupan sosial sehari-hari. Proses
pendidikan di sekolah masih banyak mementingkan aspek kognitif ketimbang
psikomotorik. Maksudnya, guru maupun orang tua lebih melihat sejauh mana
pemahaman konsep pengetahuan anak, dibandingkan sikap/perilaku dan karakternya
sehari-hari.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Pendidikan Edisi ke-V,
kata karakter memiliki arti sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang
membedakan seseorang dari yang lain. Penguatan
karakter bagi peserta didik diharapkan sesuai dengan nilai dan norma Pancasila.
Pancasila mempunyai tujuan yang salah satunya yaitu sebagai pandangan hidup
bangsa. Pancasila dapat
dijadikan acuan sebagai kumpulan nilai dan norma yang menjadi landasan
keyakinan dan cara berpikir untuk mencapai tujuan dengan berdasar kepada lima
sila dalam Pancasila. Pancasila berfungsi sebagai kerangka acuan, baik
dalam menata kehidupan pribadi, masyarakat maupun lingkungan. Merupakan tolok
ukur kebaikan dalam kehidupan manusia. Sumber moral dan ideologi bangsa dan negara. Sebagai sumber
nilai, norma, dan kaidah moral maupun hukum negara.
Dunia pendidikan sedang
dihadapkan dengan adanya gebrakan dan inovasi baru. Saat ini masih menjadi
perbincangan hangat seputar pergantian kurikulum lama ke kurikulum baru.
Kurikulum Merdeka Belajar adalah kurikulum baru yang masih hangat
diperbincangkan. Dikutip dari laman ditpsd.kemdikbud.go.id,
Sabtu (12/2/2022), Kurikulum Merdeka Belajar merupakan bentuk transformasi
sistem pendidikan di Indonesia yang diusung oleh Nadiem Anwar Makarim selaku
Mendikbudristek. Nadiem Anwar Makarim meluncurkan Kurikulum Merdeka pada 11
Februari 2022 secara daring. Ia mengatakan Kurikulum Merdeka ini merupakan
kurikulum yang jauh lebih ringkas, sederhana dan lebih fleksibel.
Profil Pelajar
Pancasila adalah salah satu program dalam Kurikulum Merdeka Belajar. Profil
Pelajar Pancasila merujuk pada pembentukan karakter pelajar. Apa itu Profil
Pelajar Pancasila dan apa kegunaannya? Dilansir dari laman guru.kemdikbud.go.id, Profil Pelajar Pancasila merupakan sejumlah
karakter dan kompetensi yang diharapkan untuk diraih oleh peserta didik yang didasarkan
pada nilai-nilai luhur Pancasila. Kegunaan Profil Pelajar Pancasila adalah:
o Menerjemahkan tujuan dan visi pendidikan ke dalam format yang
lebih mudah dipahami oleh seluruh pemangku kepentingan pendidikan.
o Menjadi kompas bagi pendidik dan pelajar
Indonesia.
o Tujuan akhir segala pembelajaran, program, dan
kegiatan di satuan pendidikan.
Di dalam Profil Pelajar Pancasila, terdapat 6 dimensi
yang harus dicapai peserta didik, yaitu Beriman,
Bertakwa kepada Tuhan YME dan Berakhlak Mulia, Berkebinekaan Global, Bergotong
Royong, Kreatif, Bernalar Kritis, dan Mandiri. Dimensi capaian ini sangat
penting bagi perkembangan peserta didik.
(Sumber
foto: google)
Jika ditelaah dengan saksama, dimensi Beriman, Bertakwa kepada Tuhan YME dan
Berakhlak Mulia adalah karakter yang memiliki akhlak dalam hubungannya
dengan Tuhan Yang Maha Esa, di mana peserta didik dapat memahami ajaran agama
dan kepercayaannya, serta menerapkan ke dalam kehidupannya sehari-hari. Tak
hanya itu, bagaimana peserta didik juga mampu menerapkan akhlak yang mulia bagi
dirinya sendiri, terhadap sesama manusia dan alam, serta kehidupan berbangsa
dan bernegara.
(Meditasi
Rohani – Peserta Didik SMK Swasta Santo Aloisius)
Dimensi Berkebinekaan
Global adalah karakter yang mempertahankan budaya luhur, menghargai
keberagaman budaya, dan kemampuan dalam berinteraksi dan bersosialisasi dengan
sesama. Misalnya, ketika pembelajaran di sekolah, guru dan peserta didik
sama-sama belajar tentang multikultural dan mengeksplorasi berbagai budaya yang
dipelajari.
(Mempertahankan
Budaya Luhur dan Menghargai Keberagaman Budaya)
Dimensi
Bergotong Royong adalah karakter yang dibangun oleh peserta didik dalam
menyadari bahwa sebagai makhluk sosial pasti membutuhkan bantuan dari orang
lain. Misalnya, ketika guru membentuk diskusi kelompok di kelas, diharapkan
peserta didik memiliki dorongan untuk bekerja sama, aktif, serta membangun komunikasi
dan interaksi.
(Bergotong
Royong Membersihkan Lingkungan Sekolah)
Dimensi Kreatif
adalah karakter peserta didik yang memiliki daya cipta atau kemampuan untuk
menciptakan karya, berkontribusi dalam memberikan gagasan, dan memecahkan
masalah. Karakter ini juga dapat membangun dan mengembangkan kreativitas dari
segi minat, bakat, dan keterampilan, serta potensi yang ada dalam diri peserta
didik.
Dimensi Bernalar
Kritis adalah kemampuan untuk berpikir kritis, mampu memproses dan
menyaring segala informasi dan mengambil keputusan yang tepat atas masalah yang
dihadapi. Cara menilai apakah peserta didik sudah masuk dalam dimensi bernalar
kritis dapat terlihat dari keaktifan peserta didik mengajukan pertanyaan, menganalisis
masalah, mengevaluasi, dan memecahkan suatu masalah.
Dimensi Mandiri
adalah karakter yang mampu berpegang teguh pada prinsip atau diri sendiri,
dan tidak bergantung pada orang lain, dapat mengenal dirinya sendiri, dan mampu
menentukan kelebihan, kelemahan, minat, bakat yang terdapat dalam diri peserta
didik itu sendiri.
Dari paparan keenam dimensi di atas, perlu diingat
bahwa guru juga berperan dalam proses penguatan Profil Pelajar Pancasila. Tidak
hanya peran peserta didik saja, tetapi guru juga berperan terlibat dan
berproses bersama peserta didik. Selain itu, peran orang tua dan masyarakat
juga sangat dibutuhkan. Pendidikan tidak hanya didapatkan dari sekolah saja,
tetapi pendidikan bisa dapatkan melalui lingkungan keluarga dan masyarakat.
Membangun karakter peserta didik melalui Profil Pelajar Pancasila harus
ditanamkan sejak dini sehingga peserta didik dapat siap dalam belajar dan
menata kehidupannya secara baik. Profil Pelajar Pancasila sangat penting bagi
keberlangsungan tumbuh kembang peserta didik. Peserta didik harus dibangun
karakternya sesuai dengan nilai-nilai Pancasila.
Pentingnya pendidikan karakter yang didapatkan anak dari
orang tua di rumah maupun guru di sekolah. Orang tua adalah pendidik utama dan
pertama bagi anak, tidak dipungkiri bahwa anak lebih banyak meniru kebiasaan
yang didapatnya dari rumah maupun dari lingkungan. Sejalan dengan filosofi
pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara
yang berbunyi “Setiap Orang Menjadi Guru. Setiap Rumah Menjadi Sekolah” yang
berarti pendidikan dapat dilakukan di mana saja, kapan saja, dan oleh siapa
saja. Maka dari itu, melalui penguatan Profil Pelajar Pancasila, hal-hal baik
dibiasakan dari sekolah agar terbentuknya karakter baik atau kebiasan-kebiasan baik oleh peserta
didik.
Penerapan kebijakan Kurikulum Merdeka Belajar akan
berjalan dengan lancar jika sekolah sudah siap untuk merealisasikan. Dalam tahun
ini, SMK Swasta Santo Aloisius telah siap mencanangkan Kurikulum Merdeka
Belajar pada tahun ajaran baru 2023-2024.
(Sosialisasi
Implementasi Kurikulum Merdeka – SMK Swasta Santo Aloisius)
Penulis:
Angela Ngare, S.Pd.