NEWS UPDATE :  
SMK SWASTA SANTO ALOISIUS

Berita

GENERASI TIK TOK

Oleh :

Joko Pamungkas, ST


Terhitung satu tahun lebih sudah pembelajaran di berbagai institusi pendidikan dilakukan dengan tidak maksimal karena ditiadakannya aktivitas tatap muka serta pengurangan jam belajar. Pemberlakuan sistem pembelajaran dalam jaringan (daring) selama masa pandemi COVID-19 membuat banyak pihak seperti orang tua, guru dan siswa mengeluhkan berbagai alasan. Mulai dari fasilitas penunjang, akses internet, kesiapan, biaya, tuntutan kurikulum hingga degradasi intelektual, dan  moral yang dialami oleh siswa.

Intensitas penggunaan ponsel pintar yang cenderung meningkat serta lemahnya kontrol dari orang tua membuat siswa bebas dalam mengakses berbagai game maupun sosial media selama pembelajaran daring dilakukan. Terlebih lagi, pembelajaran daring ini membatasi aktivitas temu antarsiswa sehingga cara paling tepat untuk mencari hiburan bagi mereka adalah dengan mengakses game dan sosial media. Tiktok salah satunya.

Candu media sosial pada siswa

Sebagai sebuah platform video pendek yang berasal dari China, aplikasi Tiktok dapat memikat hati penggunanya, menjadi candu. Bahkan sejak masa PSBB di berbagai daerah pertama kali dilakukan pada 2020, aplikasi Tiktok dapat menggaet orang-orang yang mulanya tidak menyukai aplikasi tersebut, untuk turut mengunduh dan ‘tercebur’ di dalamnya. Para pengguna ini termasuk di dalamnya adalah siswa yang turut menikmati konten-konten edukasi yang disajikan secara lebih menarik. Namun, alih-alih menikmati konten edukasi, tak sedikit pula siswa lebih tertarik yang mengikuti tren joget atau prank Tiktok.

Ketika praktikum untuk Kejuruan Teknik Kendaraan Ringan Otomotif yang  dilakukan secara terbatas pada siswa kelas X dengan mematuhi protokol kesehatan serta syarat-syarat yang ditentukan oleh pemerintah pusat dan dinas daerah yang terkait , hamper  90% siswa lupa mengerjakan tugas rumah tentang salah satu materi dasar Teknik Kendaraan Ringan Otomotif yang sudah diterima saat pembelajara online. Justru, mereka lebih paham dan ingat dengan lagu, joget serta tren lainnya di Tiktok dan mereka pun lebih aktif bersosial media di Facebook, Instagram dan gemar memperbaharui status WhatsApp daripada aktif di grup kelas membahas tentang materi pelajaran.

Tentunya, permasalahan tersebut bukan hanya para Guru dan staf instruktur Teknik Kendaraan Ringan Otomotif yang mengalaminya. Bahkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Nadiem Makarim, pernah menuturkan dalam sebuah telekonferensi pers di Jakarta, bahwa pembelajaran secara daring ini dapat menyebabkan learning lost atau hilangnya satu generasi.

Maka, jika direnungkan kembali dapatkah anak-anak generasi saat ini mewujudkan cita-cita Indonesia yang berdaulat, adil, dan makmur? Terlebih, mereka digadang-gadang akan menjadi generasi emas pada tahun 2045 yang berpikiran maju, mandiri dan berkualitas? Bukannya pesimis dengan sistem pembelajaran daring selama pandemi ini, namun kenyataan yang terjadi di lapangan terkait akibat diberlakukannya sistem tersebut selama satu tahun menunjukkan hasil yang  kurang  menyenangkan.

Berbagai permasalahan yang dihadapi dalam proses pembelajaran daring selama masa pandemi, tentunya dapat diselesaikan dengan berbagai solusi inovatif yang dapat mendorong siswa agar lebih tertarik pada pembelajaran serta memperoleh pemahaman atas pengetahuan secara lebih mendalam.

Solusi terbaik adalah dengan menerapkan kembali sistem pembelajaran tatap muka, karena biar bagaimanapun sistem pendidikan di Indonesia belum dapat sepenuhnya menerapkan pembelajaran daring. Jika masih tetap dilakukan tanpa adanya solusi pembelajaran inovatif, efektif dan aman, maka dikhawatirkan akan terjadi learning lost seperti putus sekolah, degradasi intelektual dan moral.

Namun, jika pembelajaran daring tetap dilakukan maka harus dikombinasikan dengan pembelajaran tatap muka secara inovatif, efektif dan tentunya aman. Cara yang dapat dilakukan adalah dengan menerapkan pembelajaran berbasis proyek secara terbimbing kepada siswa serta melakukan kolaborasi yang lebih intens antara guru dan orang tua. Jika selama ini siswa merasa tidak tertarik dengan proses pembelajaran daring karena alurnya yang selalu sama setiap hari, yaitu guru memberikan materi serta tugas di grup WhatsApp dalam jangka waktu tertentu, maka pola tersebut harus diubah.


gambar : ilustrasi belajar daring

Guru dapat memberikan tugas proyek khususnya Jurusan Teknik Kendaraan Ringan Otomotif dengan pembagian kelompok sesuai wilayah tempat tinggal siswa siswi dengan memberi pekerjaan ringan maupun berat tentang mater-materi Teknik Kendaraan Ringan Otomotif dibenkel-bengkel wilayah sekitar. Contohnya, siswa dapat diberi tugas proyek berupa overhaul mesin berat atau ringan, dan system kelistrikan otomotif dibengkel sekitar wilayah, disertakan dengan dokumentasi dan laporan hasil pembelajaran atau praktikumnya. Hal tersebut tentu dapat melatih pola pikir serta sikap peduli, percaya diri, ilmiah, kreatif, problem solver dan penerapan wirausaha perbengkelan sejak dini. Dengan begitu, mereka mampu menggunakan ponsel pintar dengan cara yang tepat dan akan lebih siap dalam menghadapi permasalahan-permasalahan di kehidupannya kelak.

Pandemi COVID-19 yang datang tanpa permisi tentu mengubah sebagian besar sistem pendidikan di seluruh dunia, tak terkecuali Indonesia. Seluruh pihak yang terkait dengan sistem di dalamnya seperti pemerintah, praktisi pendidikan, guru, orang tua, masyarakat, serta siswa harus mampu beradaptasi dengan cepat terhadap penggunaan teknologi dalam menjalani proses pembelajaran di masa pandemi.