NEWS UPDATE :  
SMK SWASTA SANTO ALOISIUS

Berita

KEGIATAN ENGLISH MORNING DAN HUBUNGANNYA DENGAN TEORI MOTIVASI

(Dari Rutinitas Menuju Budaya)

 

Oleh: Yohanes Paulus Dedo, S. Pd.

            Kegiatan English Morning di SMK St. Aloisius telah menjadi rutinitas. Setiap rabu pagi, sebelum pelajaran dimulai, peserta didik diminta berbicara baik melalui percakapan singkat, pidato, membaca vocabulary harian, permainan bahasa atau  fun game. Kegiatan ini biasanya berlangsung 15-30 menit. Hal ini terlihat sederhana dan bagi orang tertentu hanya formalitas belaka. Namun, kegiatan English morning bukan sekadar rutinitas tetapi lebih dari itu telah menjadi ruang pembentukan keberanian bagi peserta didik. English morning menjadi salah satu strategi yang tepat untuk mengubah mentalitas belajar peserta didik di SMK St. Aloisius Ruteng.


Dok. Kegiatan English Morning bersama salah satu wisatawan yang berkunjung ke SMKS St Aloisius

            Persoalan terbesar dalam pembelajaran bahasa Inggris adalah kurangnya motivasi dan kepercayaan diri peserta didik. Banyak peserta didik mampu mengerjakan soal grammar dengan baik. Mereka bisa memilih jawaban yang benar. Tetapi ketika diminta untuk speaking, banyak yang memilih diam atau pasif. Dalam hal ini speaking bukan hanya pengetahuan tetapi lebih pada keberanian. Dan keberanian sangat erat hubungannya dengan motivasi.

            Berbicara dalam bahasa asing menghadirkan dua beban sekaligus yaitu beban linguistic dan beban psikologis. Beban linguistik berkaitan dengan kosa kata dan struktur kalimat. Beban psikologis berkaitan dengan rasa takut salah, takut ditertawakan dan takut dianggap tidak mampu. Di sinilah English Morning memainkan peran penting. Ketika berbicara menjadi kebiasaan harian, rasa takut perlahan berkurang. Ketika kesalahan dianggap bagian dari proses belajar, tekanan psikologis menurun. Ketika sesama peserta didik saling memberi tepuk tangan maka hal tersebut akan menumbuhkan rasa percaya diri. Semua hal tersebut tidak terjadi secara otomatis. Hal tersebut membutuhkan desain yang tepat dan pemahaman terhadap teori motivasi.

Dok. Siswa sedang mendengarkan literasi berbahas inggris

            Motivasi adalah energi pendorong dibalik tindakan. Tanpa motivasi, belajar menjadi kewajiban. Dengan motivasi, belajar menjadi kebutuhan. Adapun teori motivasi yang dikemukakan oleh para ahli psikologi pendidikan sangat membantu untuk memahami bahwa English Morning menjadi alat yang efektif. Salah satu teori paling terkenal adalah hierarki kebutuhan dari Abraham Maslow. Maslow menjelaskan bahwa manusia memiliki lima tingkat kebutuhan yaitu fisiologis, rasa aman, sosial, penghargaan dan aktualisasi diri. Dalam konteks sekolah, kebutuhan rasa aman dan penghargaan menjadi kunci. Jika peserta didik merasa tidak aman karena takut diejek ketika salah mengucapkan kata bahasa Inggris maka mereka cenderung tidak berani berbicara. Jika lingkungan kelas mendukung dan guru menegaskan bahwa kesalahan adalah bagian dari belajar maka kebutuhan akan rasa aman terpenuhi. Selain itu, ketika peserta didik mendapat apresiasi atas usahanya maka kebutuhan penghargaan pun terpenuhi. Pada titik inilah mereka mulai berani mengaktualisasikan diri. English morning yang dirancang dengan suasana aman dan penuh dukungan sebenarnya sedang memenuhi tangga kebutuhan seperti dalam teori Maslow. Hal inilah yang member ruang aktualisasi diri melalui bahasa.

Dok. Pa Yohanes Dedo sedang melakukan sesi perkenalan tamu spesial

            Selain Maslow, teori motivasi modern yang sangat relevan adalah self-determination theory yang dikembangkan oleh Edward Deci dan Richard Ryan. Mereka menekankan pentingnya motivasi intrinsik yakni motivasi yang muncul dari dalam diri, bukan karena hadiah atau hukuman. Menurut teori ini, ada tiga kebutuhan psikologis dasar yaitu autonomy (merasa memiliki pilihan), competence (merasa mampu),  dan relatedness (merasa terhubung dengan orang lain). Jika English Morning hanya bersifat perintah kamu harus tampil pada hari ini tanpa member ruang pilihan maka unsure autonomy dengan sendirinya akan hilang. Jika peserta didik dipaksa berbicara tanpa persiapan sehingga merasa tidak mampu maka unsure competence akan runtuh. Jika unsure relatedness tidak mendukung maka unsure relatedness melemah. Namun, jika guru memberikan pilihan topic, member waktu persiapan dan membangun suasana saling mendukung maka ketiga kebutuhan itu terpenuhi. Pada saat itulah motivasi intrinsic bertumbuh. Peserta didik berbicara bukan karena takut dihukum tetapi lebih karena ingin mencoba. Disinilah letak kekuatan sebenarnya dari English Morning yaitu dapat menumbuhkan motivasi instrinsik jika dikelola dengan bijak. Teori lain yang juga relevan adalah teori penguatan dari B. F. Skinner menjelaskan bahwa perilaku dapat diperkuat melalui reinforcement atau penguatan. Dalam praktiknya, pujian sederhana seperti good job!, excellent pronunciation! Atau tepuk tangan bersama dapat memperkuat perilaku berbicara. Sertifikat kecil atau penghargaan bulanan bias menjadi stimulus awal. Adapu dalam hal ini sangatlah penting untuk bijaksana. Jika peserta didik hanya berbicara demi hadiah atau penghargaan maka motivasi ekstrinsik akan mendominasi. Tujuan utama English Morning bukan menciptakan pemburu hadiah melainkan pembelajar yang percaya diri. Dalam hal ini, reward sebaiknya menjadi jembatan bukan tujuan akhir. Di sisi lain,  lingkungan kelas adalah faktor higienis (berkaitan lingkungan dan kondisi kerja). Jika suasana tegang, penuh ejekan atau guru terlalu keras dalam mengoreksi maka motivasi sulit bertumbuh. Sebaliknya, jika suasana hangat dan suportif maka kesempatan  untuk tampil dan mendapatkan pengakuan akan menjadi motivasi yang kuat. Dapatlah dilihat bahwa kegagalan program sekolah bukan karena konsepnya buruk tetapi lebih karena lingkungan psikologisnya tidak mendukung.

            Sebuah program bisa berjalan tanpa makna. Tetapi budaya hanya lahir ketika ada konsistensi  dan nilai yang dihayati bersama. Jika English Morning hanya dijalankan karena instruksi dari Kepala Sekolah maka akan berhenti ketika pengawasan melemah. Tetapi jika guru dan peserta didik merasakan manfaatnya maka English Morning akan menjadi budaya. Dan budaya seperti itu hanya lahir ketika motivasi dipelihara. Guru harus kreatif dengan memberikan variasi kegiatan. Role play, story telling, mini debate, games edukatif dan menyanyikan lagu bahasa Inggris dapat membuat suasana lebih hidup. Englih Morning menjadi latihan kecil yang berdampak besar. Peserta didik yang terbiasa berbicara di depan teman-temannya akan lebih siap menghadapi wawancara kerja atau komunikasi dengan orang lain. Dengan demikian, kegiatan English Morning bukanlah sekadar latihan berbahasa Inggris tetapi menjadi investasi masa depan.

SPMB Online 2026
Youtube Channel Sekolah
Banner
Lokasi Sekolah