NEWS UPDATE :  
SMK SWASTA SANTO ALOISIUS

Berita

Sebuah Pengalaman yang Menggurui Sang Guru

Oleh : Maria Atnasari Langgur,S.Pd

“Pahlawan tanpa tanda jasa” itu adalah istilah yang sering disematkan pada profesi Guru. Guru menjadi salah satu garda terdepan yang berjasa dalam mencerdaskan anak bangsa. Dulu, saya mengira itu sangat mudah dilakukan. Setelah menjadi seorang guru saya menyadari bahwa ternyata itu tak mudah dilakukan. Dibalik profesi guru terbalut banyak tugas dan tantangan yang menjadikan profesi guru tidak bisa dianggap enteng. Menurut undang-undang No.14 Tahun 2005, guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, melatih, menilai dan mengevaluasi. Namun, ada begitu banyak momen-momen sederhana yang menjadikan profesi ini terasa luar biasa dan berkesan. Berikut diuraikan butiran kisah dalam sebuah pengalaman mengajar seorang guru.

1.      Bagian terbaik pemanis kisah

Kegiatan bersama siswa di kelas adalah bagian terbaik yang paling saya sukai. Satu kelas berisi lebih dari sekadar pelajaran. Ia adalah sebuah buku yang sedang diisi oleh suatu kisah penuh pelajaran tentang hidup. Tentang berbagai perbedaan, perjuangan, bertumbuh bersama dalam sebuah harapan. Oleh karena itu, sebelum  masuk kelas hal pertama yang dilakukan adalah menyiapkan materi, game, dan media pembelajaran versi terbaik saya. Dengan suatu harapan dapat memudahkan siswa dalam memahami materi dan menikmati proses pembelajarannya. Selanjutnya, menciptakan suasana belajar yang santai namun cukup teratur, sebab suasana yang tegang akan terasa kurang menyenangkan.

Momen dikala menyaksikan antusiasme, keaktifan dan juga senyum siswa saat mengikuti pelajaran adalah sumber energi saya di kelas. Kalimat seperti “Ibu, pelajarannya seru” atau “Ibu, lanjut  lagi lesnya” adalah kalimat paling menyentuh dari para siswa dan seketika rasa lelah memudar. Perubahan sikap siswa dari awalnya pasif menjadi aktif dalam pembelajaran adalah pencapaian kecil mereka yang selalu saya apresiasi. Ketika melihat seorang siswa yang semula kesulitan akhirnya mampu memahami materi, ada rasa puas dan bangga tersendiri. Keberhasilan siswa dalam meraih prestasi kecil maupun besar sering menjadi kebahagiaan yang tidak tergantikan. Belajar bukan cuma tentang nilai bagus atau lulus ujian. Belajar adalah cara kita mempersiapkan kehidupan agar kita bisa berpikir, memahami, dan memilih menjadi manusia yang lebih baik. Oleh karena itu, saya tidak pernah menuntut siswa untuk harus memperoleh nilai yang sempurna. Hal paling penting adalah mereka bisa memahami materi dan makna dari pembelajaran itu sendiri dan minimal mencapai nilai minimum (KKM).

Setiap siswa itu unik dengan beragam karakter. Saya terus belajar beradaptasi dengan karakter siswa yang beragam dan dinamika kelas untuk menciptakan pembelajaran yang bermakna. Karakter siswa yang beragam dan unik memberikan warna dalam pembelajaran di kelas. Terkadang tingkah mereka membuat saya merasa jengkel. Namun, ada juga tingkah lucu mereka yang cukup menghibur. Bagi saya, guru tanpa siswa hanyalah kehampaan.

2.      Tantangan dan solusi warnai kisah

Setiap kegiatan tentunya menemui banyak tantangan. Begitu pula dalam kegiatan belajar mengajar di kelas. Bagi saya tantangan bukanlah hambatan. Tetapi, sebuah kesempatan untuk bisa bertumbuh melalui belajar menggapai solusi. Solusi yang saya usahakan yaitu melalui penerapan model dan metode pembelajaran yang lebih strategis dan sesuai dengan karakteristik siswa.

Tantangan pertama yaitu saat menghadapi siswa yang malas belajar dan tidak  mengerjakan tugas. Banyak siswa kurang mempunyai motivasi belajar, sehingga menganggap belajar dan kerja tugas bukan lagi prioritas utama. Padahal tugas adalah suatu proses yang mesti dilalui untuk menaikkan level berpikir dan rasa tanggung jawabnya.

 Solusi yang saya lakukan adalah “tidak memberikan Pekerjaan Rumah (PR)”. Jadi, semua tugas diselesaikan saat pembelajaran di kelas, kecuali tugas proyek. Hal ini juga membuka ruang untuk saya agar bisa memantau dan membimbing siswa untuk menyelesaikan tugasnya. Kemudian di awal pembelajaran, saya seringkali memberikan quiz lisan berupa butir-butir pertanyaan terkait materi di pertemuan sebelumnya. Siswa yang bisa menjawab benar akan mendapat tambahan poin sedangkan siswa yang menjawab salah akan mendapat pengurangan poin. Jadi, siswa dituntut untuk belajar agar bisa mendapat tambahan poin. Metode quiz ini ternyata cukup disukai siswa, hal ini nampak dari antusias siswa saat mengikuti quiz. Selain itu, solusi yang saya lakukan adalah membuat pembelajaran agar tidak membosankan dengan cara memasukkan beragam game dan ice breaking di sela-sela pembelajaran. Dan juga menekankan kebermaknaan dan relefansi materi dengan kehidupan nyata siswa, sehinnga bisa sedikit menyadarkan siswa tentang pentingnya ia belajar.

Tantangan ke-dua yaitu saat menghadapi siswa yang apatis dan susah diatur. Terkadang menghadapi siswa seperti itu cukup menguras tenaga dan emosi. Guru dituntut untuk lebih sabar menghadapinya, serta perlu dilakukan pendekatan emosional dan sanksi tegas bila siswa tersebut terus melakukan pelanggaran. Berdasarkan pengalaman saya, ketika siswa dengan karakter seperti itu diberi kesempatan dan juga pujian kecil untuk setiap hal baik yang dilakukannya, ia bisa perlahan menjaga sikap dan aktif dalam hal yang postif. Seperti saat dipilih menjadi ketua kelompok, ternyata ia bisa menunjukkan jiwa tanggungjawab. Juga dengan satu pujian sederhana, ia semakin berani dan aktif menjawab pertanyaan guru. Jawaban benar atau salah, bukan menjadi masalah. Setidaknya perlahan ia menunjukkan perubahan positif. Namun, jika tetap tidak ada perubahan biasanya saya bekerja sama dengan guru BK untuk menangani siswa bersangkutan.

Tantangan ke-tiga yaitu saat menghadapi siswa yang lambat memahami materi. Saya percaya bahwa tidak ada siswa yang bodoh. Setiap siswa mempunyai kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Ada siswa yang cepat memahami materi, ada juga siswa yang butuh lebih banyak waktu untuk bisa memahami materi. Biasanya saya meluangkan waku untuk membimbing saatu per satu siswa yang masih kesulitan dalam pelajaran. Computer Technology Research menyatakan bahwa orang hanya mampu mengingat 20% dari yang dilihat dan 30% dari yang didengar. Tetapi orang dapat mengingat 50% dari yang dilihat dan didengar, dan 80% dari yang dilihat, didengar, dan dilakukan sekaligus (Munir, 2012). Oleh karena itu, media dan model pembelajaran yang baik harus memadukan ketiga informasi tersebut. Maka saya menghadirkan beragam media pembelajaran untuk mendukung hal tersebut. Seperti, powerpoint interaktif (memadukan gambar, animasi dan video), poster, flashcard, serta media konkret untuk eksperimen ilmiah (praktek).

Selain itu, saya  lebih sering menerapkan model pembelajaran seperti problem based learning, dan project based learning dengan pendekatan deep learning. Dimana pembelajaran menjadi berpusat pada siswa (student center). Jadi, guru menjadi pembimbing sedangkan siswa diberi kesempatan untuk mengonstruksi pengetahuan sendiri melalui proses pengamatan dan pengalaman (melihat, mendengar, dan melakukan). Strategi yang sering diterapkan seperti pembelajaran berbasis pertanyaan (untuk memicu pemikiran kritis), diskusi kelompok (untuk kolaborasi dan berbagi ide), dan presentasi (untuk melatih komunikasi). Sedangkan metode yang paling sering diterapkan yaitu observasi, curah pendapat, proyek dan eksperimen sederhana.

Tantangan yang ke-empat adalah kurangnya jiwa kompetitif dari siswa, padahal sebenarnya mereka mempunyai potensi. Hal ini berdampak pada keaktifan kelas yang cenderung pasif. Solusi yang saya lakukan selain menerapkan model pembelajaran seperti Problem Based Learning, dan Project Based Learning adalah membuat Cerdas Cermat interaktif terkait materi pembelajaran di dalam kelompok kecil. Disitulah dapat disaksikan jiwa kompetitif para siswa dalam ragam keseruannya saat berebut menjawab soal. Hasil dari cerdas cermat tersebut juga menjadi alat evaluasi terkait hasil belajarnya.


Dok Pribadi : kegiatan presentasi dan diskusi kelompok


Dok. Pribadi : Eksperimen sederhana tentang perubahan materi


Dok. Pribadi : hasil karya siswa a) tempe  b) keranjang dari plastik bekas c) lampu hias dari stik es krim

 

3.    Membangun Ikatan dalam cerita

Membangun ikatan dengan siswa itu tentang membangun kepercayaan dan hubungan positif melalui mendengarkan aktif, memberi apresiasi, memahami minat mereka, serta menggunakan komunikasi terbuka dan empati sehinnga mereka merasa dihargai. Oleh karena itu, saya berusaha menempatkan diri sebagai guru dan teman bagi siswa saya. Terkadang saya luangkan waktu untuk berbagi cerita dan mendengarkan keluh kesa mereka. Biasanya saat pembelajaran di akhir bulan, saya memberikan asesmen diagnostik untuk lebih mengetahui krakteristik siswa  terutama dalam belajar, serta memperoleh saran dan kritik para siswa terhadap metode pembelajaran di kelas. Melalui hasil asesmen diagnostik, maka saya bisa mengenal lebih jauh tekait karakteristik siswa guna menciptakan model dan metode pembelajaran yang lebih sesuai sehingga siswa bisa lebih nyaman saat pembelajaran. Dan juga saya bisa mengevaluasi diri, sebab saya menyadari bahwa sebagai guru saya masih memiliki kekurangan yang perlu dibenahi.

Pada akhirnya, mengajar bukan hanya soal memberikan ilmu, melainkan juga menerima pelajaran dari setiap pengalaman di kelas. Pengalaman transformatif yang dibalut dengan banyak hal menyenangkan dan juga tantangan, meliputi pembelajaran tentang pendekatan pedagodis dan emosional yang relefan, pentingnya membangun karakter, serta kesadaran bahwa guru membutuhkan kreativitas, kesabaran, empati, serta harus terus beradaptasi dengan karakter siswa yang beragam untuk menciptakan pembelajaran yang bermakna dan menyenangkan. Bagi saya, guru terbaik seorang guru adalah pengalamannya. Jadi, guru perlu untuk selalu melakukan refleksi agar lebih mengenal kelebihan dan kekurangannya. Sehingga ia bisa terus berbenah demi menuntun para siswa yang dikasihinya. 

SPMB Online 2026
Youtube Channel Sekolah
Banner
Lokasi Sekolah