NEWS UPDATE :  
SMK SWASTA SANTO ALOISIUS

Berita

KONTRIBUSI PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN SISWA SMK ST ALOISIUS DALAM MEMBANGUN BANGSA

(Florianus S. Genggor, S.Pd)

           Sejauh ini fakta menyajikan terjadinya penurunan karakter kehidupan berbangsa pada semua elemen anak bangsa. Hal ini ditandai oleh merosotnya etika dan moralitas masyarakat terutama tokoh-tokoh publik dan pelaku belajar, seperti siswa dan mahasiswa. Setiap hari media massa mempublikasikan kemerosotan-kemerostan tersebut. Kenyatan ini terjadi di seluruh pelosok negeri. Hingar-bingar praktik kemunduran kehidupan yang mencabik prilaku budaya bangsa ini kian memprihatinkan. Tidak terkecuali pada instansi-instansi pendidikan. Lembaga pendidikan yang semestinya menjadi garda terdepan pembentukan karakter bangsa pun juga mengalami kemunduran praktik etika dan moral. Peristiwa kekerasan, tawuran antarpelajar, bullying dan sebagainya mewarnai dinamika pendidikan kita. Tidak sedikit pelaku dari peristiwa-peristiwa tersebut harus mendekap di jeruji besi lantaran menyalhi pasal-pasal undang-undang.

           Pada era digital ini, wajah kekerasan dan pelanggaran moral serta etika semakin beragam. Teknologi yang seyogianya membantu dan mempermudah pekerjaan manusia justru melahirkan masalah baru. Sebut saja penggunaan HP dan internet yang tidak hanya memajukan pekerjaan dan pola pikir manusia namun juga menawarkan banyak kemersotan moral penggunanya. Kurangnya kesadaran bangsa terhadap penggunaan teknologi menyebabkan terjadinya penyalahgunaan teknologi tersebut. Melalui teknologi, orang pada jaman ini rentan menampilkan perilaku dan komunikasi yang menghambat terciptanya keakraban bahkan sering juga memunculkan masalah yang pelik. Melalui media sosial, orang mencurahkan segala hal yang dialmainya, termasuk hal-hal yang negatif.

           Pada tahun 2022 lalu peristiwa yang cukup menyita perhatian masyarakat dan lembaga pendidikan di kota Ruteng misalnya; cukup menggambarkan betapa media sosial dengan amat cepat menampilkan karakter buruk siswa pada lembaga pendidikan tertentu. Demikian pun peristiwa tawuran yang terjadi di Labuan Bajo pada 24 April 2024. Para pelajar di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat terlibat tawuran, di mana mereka kejar-kejaran di jalan sembari memukul lawan, sebagaimana yang terekam dalam video yang beredar luas di aplikasi percakapan digital.(https://floresa.co/reportase/peristiwa/63823/2024/04/21/pelajar-di-labuan-bajo-tawuran-kejar-kejaran-di-jalan-sambil-pukul-lawan-dengan-kayu).

           Peristiwa kemerostan moral dan etika juga terjadi pada figur-figur publik bangsa ini. Tidak sedikit pejabat politik, pemerintah, guru, kepala sekolah, dan tokoh-tokoh bangsa lainnya yang menunjukkan perilaku tidak bermoral. Media massa membagikan informasi tertangkapnya pemangku jabatan tertentu oleh pihak kepolisan. Beberapa waktu silam juga kita dihebohkan dengan peristiwa pengungkapan masalah yang terjadi pada pimpinan sebuah sekolah menengah di Manggarai. Belum lagi penggunaan kebijakan dan praktik korup pada hamper semua lembaga termasuk lembaga pendidikan kian menggemaskan. Ini kenyataan yang tidak lagi dapat disembunyikan dari perhatian masyarakat luas. Kasus-kasus yang ditampilkan di atas cukup mencerminkan rendahnya etika dan moralitas bangsa Indonesia.

Pendidikan Kewarganegaraan sebagai Penawar Pembentukan Karakter Bangsa

           Pendidiakan kewarganegaraan dikenal dengan istilah civic education atau citizenship education. Kedua istilah ini memiliki perbedaan. Civic education merupakan pendidikan pembentukan karakter warga Negara yang dilakukan melalui sekolah atau lembaga pendidikan formal. Sedangkan citizenship education adalah pendidikan pembentukan karakter warga n egara yang dapat dilakukan oleh berbagai cara atau jalur dan lembaga seperti keluarga, sekolah, komunitas, media dan sebagainya. Kedua pengertian tersebut kiranya sejalan dengan tujuan adanya mata pelajaran PKn di sekolah, yaitu sebuah pembelajaran yang memfokuskan pada pembentukan warga Negara yang memahami dan  mampu melaksanakan hak-hak dan kewajibannya untuk menjadi warga Negara Indonesia yang cerdas, terampil, berkarakter sesuai dengan amanat Pancasila dan UUD 1945.

           Pemahaman dasar tersebut di atas memberikan dasar pijakan orang dalam menjalankan kehidupan berbangsa dan bernegara.  Pendidikan kewarganegaraan bertujuan untuk memberikan pendidikan kepada anak-anak atau generasi muda bangsa menuju pribadi yang demokratif dan partisipatif sebagai warga Negara. Maka penting bagi sebuah lembaga pendidikan mengembangkan pendidikan tersebut dalam dan luar kelas, melalui pembelajaran maupun kegiatan ekstrakurikuler. Dengan demikian, karakter peserta didik betul betul diperhatikan, dibentuk, dan akhirnya diaplikasikan dalam keseluruhan cara hidup mereka. Untuk mencapai hal tersebut tentu guru, tokoh pendidik dan tokoh kependidikan juga harus menjadi pelaku utama dan pertama perilaku bermoral dan berkarakter. Tokoh pendidik perlu untuk selalu merefleksikan dirinya agar bisa diandalkan dan pada akhirnya menjadi cerminan bagi peserta didik.

           Pendidikan kewarganegaraan merupakan salah satu pilar utama kesuksesan bangsa dalam membentuk karakter masyarakat. Banyaknya kasus sebagaimana disajikan media massa dan juga kesaksian langsung kita dalam kehidupan sehari-hari mestinya cepat disikapi secara bersama. Penting bagi sebuah lembaga pendidika untuk selalu melihat bersama dan megnevaluasi perilaku komunitas lembaga pendidikannya. Ini merupan salah satu upaya pencegahan terjadinya praktik-praktik tidak bermoral warga lembaganya.

           Pendidikan kewarganegaraan atau PKn adalah salah satu pembelajaran yang berupaya secara strategis membentuk system nilai yang ada dalam diri seseorang/seorang siswa yang kaitannya dengan perwujudan harkat dan martabat sebagai manusia sesuai dengan tatanan kehidupan masyarakat yang melingkupinya. Pendidikan senantiasa mengarahkan upaya dalam meningkatkan kesadaran moral serta martabat seseorang, baik secara pribadi maupun sebagai anggota masyarakat bangsa. PKn sudah menjadi bagian dari instrument pendidikan nasional untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. PKn mempersiapakan peserta didik untuk warga Negara yang baik dan cerdas, berakhlak mulia, partisipatif, dan bertanggung jawab. PKn menciptakan generasi yang berkarakter dan memiliki semangat nasionalisme yang tinggi. Singkatnya, melalui PKn, nilai-nilai kehidupan berbangsa dapat terwujud.

           Nilai-nilai karakter kebangsaan dan Pancasila perlu ditanamkan sejak dini dan hal itu merupakan sebuah keharusan bagi semua lembaga pendidikan. Peserta didik perlu dibiasakan dengan pola-pola penanaman nilai tersebut agar menjadi pelaku kebaikan di masa kini dan masa depan. Inti dari kepribadian warga Negara adalah kebikjakan kewarganegaraan. Apa itu? Kebijakan kewarganegaraan adalah sebuah pola dan upaya berperilaku sesuai asas-asas kehidupan bernegara sebagaimana tertuang dalam Pancasila dan UUD 1945. Mata pelajaran PKn mesti juga dilihat dan diperlakukan sebagai praktik demokrasi. Pendekatan yang disarankan dalam pembelajaran adalah pembelajaran yang lebih berorientasi pada proses berpikir kritis dan pemecahan masalah. Pembelajaran tidak perlu terlalu fokus pada materi yang tercatat dalam buku pedoman. Pembelajaran mesti jauh lebih kontekstual dengan tetap berpedoman pada asas-asas yang berlaku sebagai salah satu dasar pemecahan masalahnya. Pada saat yang sama, lingkungan masyarakat dan sekolah seharusnya dikondisikan untuk menjadi tempat pembelajaran. Artinya, kita perlu melihat personal sekitar maupun pada lingkungan sekolah sendiri sebagai fokus pembelajaran. Persoalan-persoalan yang dekat dengan kita biasanya jauh lebih mudah dipahami dan lebih praktis untuk didiskusikan sehingga peserta didik atau siswa mampu menjadikan persoalan yang ada sebagai bagian dari pengalamannya. Hal itu akan sangat mungkin mampu mendorong siswa untuk lebih mampu memahami praktik hidup mana yang penting untuk ditunjukkan.

           Kita perlu menerapkan pendidikan karakter kebangsaan mulai dari budaya sekolah kita sendiri. Lembaga SMK santu Aloisius memiliki budayanya sendiri, yaitu kasih, persaudaraan dan damai. Melalui pendidikan PKn, budaya ini perlu terus dilihat dan dievaluasi. Apakah warganya sudah mampu menghidupi budaya itu sendiri ataukah malah menghindar dari budaya tersebut. Persaudaraan, kasih dan damai tentu merupakan sebuah spirit yang sangat baik dan akan sangat mudah membantu siswa menjadi siswa yang berkarakter nasionalis. Sebab ketiga spirit hidup berkomunitas tersebut merupakan dasar kehidupan beretika dan bermoral anak bangsa. Tidak aka nada kedamaian di tengah perang dan kegelisahan relasi yang kian menjauh. Sebaliknya, selalu ada kedamaian di tengah kehidupan yang penuh persaudaraan dan terikat jalinan kasih.

           Pendidikan PKn pada SMK Santu Aloisius perlu dikembangkan terus menerus dan kalau perlu dikolaborasikakn dengan pembelajaran yang lain. Pembelajaran tidak boleh hanya meluluh pada kegiatan dalam kelas. Sebaliknya dan sebaiknya, pembelajaran PKn lebih ditekankan pada kegiatan ekstrakurikuler atau pembelajaran kolaboratif. Kolaborasi itu bisa diwujudkan dengan Bahasa Indonesia, Pendidikan Agama, dan Sejarah. Dengan demikian, karakter anak-anak atau peserta didik kita dapat terarah pada sejarah dan tujuan yang sama. Lebih daripada itu, pendidikan PKn tidak dapat diharapkan untuk berfokus pada upaya guru PKn saja. Akan tetapi, penting bagi keterlibatan semua pihak dan elemen sekolah. Semua orang harus terlibat penuh dan aktif dalam upaya tersebut. Kita tidak bisa mengupayakan hal baik secara sendiri-sendiri. Akan jauh lebih mudah jika hal tersebut merupakan sebuah gerakan bersama. Oleh karena itu, semua orang dalam lembaga pendidikan perlu membuka diri untuk aktif berkomunikasi dan berkoordinasi dengan semua rekan dan mitra.. Pendidikan kewarganegaraan hendaknya diperhatikan secara khusus dalam menanggapi kurikulum saat ini yang sangat menekankan pendidikan karakter Pancasila.

Kesimpulan

           Pendidikan sangat penting ditegakan untuk menghantar manusia menjadi lebih manusiawi. Pendidikan yang sukses tidak tampak pada kualitas pengetahuan semata. Pendidikan yang sukses adalah pendidikan yang tampak pada perilaku kaum terdidik. Siswa SMK Santu Aloisius harus mencapai cita-cita tersebut. Keterampilan pada bidangnya sendiri bukan satu-satunya ukuran kesuksesan. Hal itu hanya satu dari sekian indicator kesuksesan yang lain. Kesuksesan pendidikan harus tercermin pada perilaku bermartabat, bermoral, beretika, penuh persaudaran, sadar akan nilai Pancasila dan hidup dalam praktik kasih.

           Pada dasarnya karakter yang sesuai dengan karakter bangsa Indonesia adalah karakter warga Negara yang berdasarkan nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945. Dalam Pancasila semua karakter itu dicantumkan. Tinggal sekarang apakah kita mampu menjadikannya sebagai praktik hidup atau hanya sebatas selogan dan semboyan bersama? Kita mampu dan sangat bisa mewujudkannya melalui praktik pendidikan yang lebih terbuka dan kontekstual. PKn adalah salah satu instrument yang bisa kita tingkatkan kualitas prosesnya dengan tidak hanya terpaku pada kegiatan dalam kelas, namun perlu lebih banyak melaksanakan kegiatan ekstrakurikulernya agar pendidikan tersebut tidak terbatas pada pembelajaran materi melainkan juga terlebih pada tindakan nyata. Dengan demikian, segala jenis persolan yang muncul pada pendahuluan dan latar belakang tulisan ini bisa dikurangi bahkan dihilangkan. Kita perlu menghidupkan pendidikan karakter ini dari lembaga kita sendiri dengan selalu menghindari tindakan bullying, kekerasan, dan tindakan kurang baik lainnya yang dapat membawa kemunduran peradaban kita sendiri.

SPMB Online 2026
Youtube Channel Sekolah
Banner
Lokasi Sekolah