NEWS UPDATE :  
SMK SWASTA SANTO ALOISIUS

Berita

GURU: PERTARUNGAN ANTARA PENGABDIAN DAN NASIB


(Fransiskus Yafmat)

Pengantar     

Guru merupakan sebuah pekerjaan yang melebihi profesi. Guru adalah sebuah pengabdian tak kenal lelah. Semua manusia menjadi sungguh manusia dan semakin manusiawi tak lepas dari peran seorang guru. Tidak mengherankan jika guru termasuk salah satu fundator kemajuan bangsa. Guru juga selalu memiliki pengabdian yang lebih. Akan tetapi, nasib guru masih sangat jauh dari sebuah kata layak. Tidak sedikit guru di berbagai penjuru republik ini mengeluhkan nasib mereka yang tidak sebanding dengan pengabdian. Padahal, tombak sebuah keberhasilan akan terwujudnya cita-cita mencerdaskan dan mensejahterakan bangsa amat bergantung pada guru. Saya terkesan dan terpanggil untuk menuangkan permenungan seputar peran dan nasib guru yang bermandikan kapur setiap harinya.

Guru: Pertarungan Antara Pengabdian dan Nasib

Membicarakan guru agaknya amat liar jika dipisahkan dari sebuah lembaga mulia yang bernama “sekolah”. Maka amat luhur adanya jika sekolah juga menjadi sebuah locus pembahasan, sebab guru, siswa, dan sekolah merupakan satu kesatuan yang integral. Sekolah merupakan sebuah komunitas pendidikan diterapkan. Sekolah selalu berjuang melahirkan manusia yang berakhlak mulia, bijaksana, dan cerdas serta dewasa. Sebaliknya, sekolah pada kodratnya berusaha menolak pendangakalan. Pada prosesnya, ada memang ketidak-sempurnaan terjadi di sana-sini. Tetapi melalui sekolah, setiap anak didik diajarkan untuk kelak menyadari tanda-tanda pendangkalan dalam kemanusiaan dan peradaban kita. Setidaknya dari pengalaman pribadi, saya adalah anak sekolah yang menikmati dinamika pendidikan dari beragam kurikulum, seperti KBK, KTSP, hingga K13. Pergantian itu tidak terlalu membuat saya bingung dan gamang. Saya selalu tetap menemukan makna belajar di sekolah.

            Pergantian kurikulum agaknya tidak memberikan kesulitan bagi saya sebagai siswa. Namun, ketika menjadi guru pergantian kurikulum menjadi sesuatu yang sangat merepotkan. Guru harus berjuang mengkondisikan metode pengajarannya dengan tuntutan kurikulum. Belum lagi, ada kurikulum (K13) yang dalam pembacaan saya digunakan tanpa kompromi. Setidaknya, para guru dipersiapkan terlebih dahulu sebelum kurikulum tersebut diterapkan. Kenyataan ini lantas cukup membingungkan para guru meskipun dalam prosesnya mereka juga terbiasa dengan kurikulum tersebut. Begitulah jika kita dipanggil untuk mengabdi pada bangsa sebagai seorang pahlawan tanpa tanda jasa yang di sisi lain jasa-jasanya diabaikan. Pergantian kurikulum dan tuntutan administrasi lain-lain dalam sekolah kiranya tidak menjadi factor penentu keberhasilan siswa. Guru itulah revolusioner bagi mentalitas anak-anak didiknya. Dan murid, ketika besar baru ingat jasa-jasa gurunya yang sewaktu masa sekolah menjadikannya bahan gosip dan kebencian. Padahal hampir semua manusia sukses karena ditempah oleh seorang guru. Guru adalah lading penghasil panen yang berlimpah ruah.

Baca Juga : Cerdas Berdigital Di Era Disrupsi

            Seorang pengusaha muda di Manggarai bercerita, beliau selalu cekatan dan siap siaga dalam bertugas. Sikap ini terbentuk karena dulu sudah terbiasa dengan ujian mencongak yang datang tiba-tiba dari guru SD-nya. Pada cerita lain, Ir. Budiman menjadi pimpinan yang perhatian dengan nasib buruhnya, karena bayang-bayang kisah guru SMP-nya yang sekalipun hidup pas-pasan tetap setia sampai ajal, mengajar dan mendampingi anak didiknya sampai malam hari.

            Marlina, setia mendampingi anak-anak di perkampungan kumuh nan kriminal karena terinspirasi guru seninya di SMA yang selalu memutar otak untuk mengorganisir anak-anak bengal di sekolah menjadi sebuah kelompok teater yang tersohor. Seorang petani bernama Maksi di sebuah desa kini menjadi seorang yang sangat sukses karena nasehat emas gurunya di SMK; “sekurang-kurangnya kalau nilaimu tidak bagus, olahlah tanah dengan serius dan tanggung jawab”.

            Dahulu jumlah lulusan sarjana pendidikan amat sedikit. Orang yang mau menjadi guru juga sedikit. Ekonomi mereka juga pas-pasan. Dewasa ini, jumlah pendidikan guru melesat jauh. Orang yang menjadi guru juga semakin banyak, tetapi hidup mereka tetap pas-pasan saja. Mereka mempunyai istri dan anak-anak. Banyak biaya yang diperlukan untuk membangun rumah tangga. Ada memang sekolah dan yayasan tertentu yang menggaji rekan karyanya (guru) secara pantas. Namun, tidak sedikit sekolah yang menggaji guru-gurunya secara tidak wajar, seperti gaji yang rendah dan kurang dari UMR. Belum lagi sebagian dari hak mereka dirampas kelompok elit tertentu, di sekolah atau pun di lembaga pemerintahan. Hal ini jauh lebih malang dari guru yang digaji lima ratus ribu rupiah (500.000)/bulan. Mengapa lebih malang? Ya, karena jelas-jelas hak dan keringat mereka dirampas habis-habisan oleh tuan-tuan aktor diktator yang rakus dan tidak berbelas kasih.

            Pada kenyataan lain, ada guru-guru yang mengalmi ketersendatan dalam menerima gaji. Lalu, bagaimana mereka berjuang untuk survive dengan hidup? Haruskah nasib guru sekejam ini? Adilkah republik ini terhadap nasib para pahlawan kecerdasan bangsa? Biarkan pertanyaan ini tetap menggantung, dan direnungkan sendiri oleh para guru dan pembaca yang budiman. Hari-hari ini banyak guru dari daerah dan kota yang hiruk pikuk mengurus administrasi pada dinas terkait demi sebuah tunjangan yang juga pas-pasan atau mungkin juga irasional, seperti berjuang dalam program P3K, PPG, dan sebagainya. Mereka terpaksa menitipkan materinya untuk anak didik pada guru yang lain. Pengejaran nasib bagi mereka tidak lalu mengorbankan anak didiknya di sekolah. Mereka selalu memikirkan anak-anak yang siap menerima pengajaran luhur mereka.

Indonesia ini adalah negara yang memiliki lembaga pendidikan teramat banyak. Semuanya itu demi menelurkan penghuni bangsa yang sungguh dan lebih manusiawi. Sementara sekolah  bertumbuh seperti jamur, gaji guru pun tidak merata tersebar seperti jamur pula. Tidak mengherankan jika mereka terpaksa mengalihkan waktu untuk menghidupi keluarga dengan pekerjaan sambilan. Ada yang mencari pakan ternak, ojek, dan berkebun sepulang sekolah. Ada yang mencari peruntungan di kupon putih, ada yang menjadi jurkam di masa-masa kampanye politik, dan sebagainya. Melongo pada relitas ini, terlalu dangkal rasanya menuntut dedikasi di saat nasib mereka sedang tidak baik-baik saja.

            Kalau memungkinkan, ini hanya impian pribadi saya; sebaiknya tidak perlu membangun sekolah banyak-banyak, kecuali di tempat terisolir yang sungguh membutuhkan, daripada tidak siap untuk menggaji guru. Lebih baik, kampus-kampus pendidikan guru menjalankan seleksi ketat penerimaan mahasiswanya. Standar kompetensi dalam proses pendidikan guru dinaikan levelnya. Biarkan pemuda-pemudi bebrpikir dua kali kalau masuk fakultas tersebut. Lulusan menjadi guru akan kembali bergengsi.

Baca Juga : SMK Aloisius Bangun Kerjasama Dengan Kabupaten Manggarai

            Lagipula lebih baik menuntut keras sejak awal daripada ketika menjadi guru, baru dibebani tugas-tugas administratif di sana-sini. Seorang anak tidak mungkin disuruh lari maraton, sementara sebelumnya seharian disuruh santai bermain ludo. Karena lulusan guru menjadi tidak kalah bergengsi dari lulusan lainnya, maka perjuangan mereka patut diapresiasi secara konkrit dengan gaji yang pantas. Hidup akan terjamin, sekalipun proses untuk menjadi guru bukan lagi hanya mau bergulat menyusun skripsi asal-asalan. Gaji diberikan secara pantas dan pada saat yang sama dedikasi tidak bisa ditawar-tawar. Pendidikan akan jauh lebih bermutu jika pemerataan dan keadilan, kepantasan dan kewajaran juga dialami oleh tokoh pendidik dan kependidikan

            Namun, karena sekedar impian, kala pun belum menjadi kenyataan, menjadi guru itu tidak seperti pejabat yang didandani pakaian dinas kebesaran. Tetapi, dari api perubahan yang dinyalakannya di setiap nalar dan mental anak didiknya. Seorang agamawan bisa berkotbah berjam-jam di atas mimbar. Namun perubahan semakin baik pada orang-orang dewasa, layaknya besi dingin, tidak terlalu bisa diharapkan. Namun, guru berjam-jam memantik pikiran kritis dan menempa anak didik, layaknya besi menyala, akan menghasilkan manusia-manusia tajam-ampuh di masa depan.

            Para politikus berkobar-kobar saat berkampanye untuk memjukan suatu daerah. Namun, janji akan tetap didiskusikan kembali dalam rapat-rapat tertutup demi elektabilitas. Namun, pengetahuan yang dihamparkan para guru, mengenal diskusi, tetapi dengan gagah akan mengatakan ini benar sebagai benar, ini indah sebagai indah, dan ini baik karena memang baik. Melihat kenyataan akan nasib dan pengabdian guru, rasa-rasanya republik ini masih perlu mempertimbangakan kembali tentang keseriusan memperistiwakan undang-undang kecerdasan hidup berbangsa. Gagasan dan cita-cita tersebut akan sangat dan lebih cepat serta tepat disingkapkan jika nasib semua tokoh terkait di dalamnya berimbang dengan pengabdiannya.

Penutup

            Guru merupakan sebuah profesi yang melebihi profesi. Dia lebih pantas berada di luar dan di atas dari sekedar sebuah profesi. Guru amat pantas berada dalam bingkai mulia bernama pengabdian. Mengapa demikian? Karena de facto, guru hingga saat ini hanya bertaruh pada pengabdian dan dihantui nasib yang selalu diperjuangkan. Melihat hal ini, tidak real jadinya menuntut dedikasi tinggi sementara nasib mereka sedang tidak baik-baik saja. Menjadi guru merupakan sebuah kebanggaan tiada taranya, sebab darinya lahirlah kecerdasan. Pengetahuan yang dihamparkan para guru, mengenal diskusi, tetapi dengan gagah akan mengatakan ini benar sebagai benar, ini indah sebagai indah, dan ini baik karena memang baik